Swita mengenalkan istilah influencer otoritatif, yaitu kreator yang ahli di bidangnya, seperti dokter Gia Pratama di kesehatan atau Dosen Update di ekonomi.
Menurutnya, keberadaan mereka bisa menjadi penyeimbang di tengah banjir informasi.
Ia juga membedakan influencer yang mengejar viral dengan buzzer. Influencer memanfaatkan tren spontan untuk popularitas, sementara buzzer bekerja sistematis dengan pesanan opini tertentu.
Swita menekankan pentingnya literasi informasi dengan prinsip CABE: Cakap menggunakan tools, Aman agar informasi tidak merugikan, Budaya dalam berdiskusi digital, dan Etika terkait hak cipta serta keterbukaan penggunaan AI.
“Membangun personal branding berbasis nilai akan membantu kreator menjadi influencer otoritatif yang memberi edukasi kredibel kepada audiens,” ujarnya.
Swita mengapresiasi kanal Padhang milik Pemprov Jateng, namun menekankan perlunya tindak lanjut edukasi agar masyarakat makin paham cara menangani hoaks tanpa harus menjadi korban terlebih dahulu.


















