“Pencapaian ini menjadi bukti bahwa perempuan Semarang sudah mengambil peran strategis dalam pembangunan, baik di tataran parlemen, ekonomi, hingga level pengambilan keputusan,” jelasnya.
Agustina mengatakan pemberdayaan di Kota Semarang telah melampaui slogan pembangunan semata.
“Kita telah mengunci komitmen perlindungan perempuan dan anak melalui 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak,” tuturnya.
Seluruh kelurahan di Semarang kini menjadi garda terdepan dalam memastikan ruang aman bagi setiap warga. Pemkot Semarang memastikan perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek utama perubahan.
Salah satu bukti nyata kekuatan perempuan Semarang terlihat dari gerakan Semarang Wegah Nyampah. Melalui kader PKK dan berbagai komunitas telah membuktikan kapasitas manajerial mereka dalam menjaga lingkungan.
Kontribusi perempuan dalam ekosistem bank sampah telah membantu perputaran ekonomi sirkular hingga mencapai angka Rp2,2 miliar.
“Ini adalah aksi nyata mitigasi banjir yang dilakukan dari dapur dan rumah tangga. Sampah yang dikelola dengan hati berubah menjadi berkah ekonomi,” pungkasnya.


















