“Jumhur Hidayat itu mantan narapidana, tapi dia seorang intelektual, dia belajar tentang perburuhan, ekonomi, lingkungan dari ITB. Jadi karena dia saya kenal, maka saya dampingi itu. Itu alasan saya ada di sini,” kata Rocky kepada awak media.
Terkait pembicaraannya dengan Seskab Teddy, Rocky mengatakan pembahasannya mengenai etika kepemimpinan, khususnya tentang pentingnya bahasa tubuh dalam menunjukkan kepemimpinan.
“Ya, saya ngomong dengan Seskab, ya ngomong tentang ethics of care dan ethics of rights. Ethics of care artinya cara secara psikologis memperlihatkan kepemimpinan melalui bahasa tubuh. Bukan melalui tubuh ya, melalui bahasa tubuh gitu. Nah, bahasa tubuh kita ada dua tuh, bahasa tubuh yang terucap dan bahasa tubuh yang tersembunyi,” kata Rocky.
Dia menilai Teddy mampu memilah kapan bahasa tubuh yang terbuka perlu ditampilkan dan kapan sikap psikologis tertentu perlu disimpan.
“Saya bilang Pak Teddy ini mampu untuk memilah kapan bahasa tubuh yang terucap itu dipamerkan, kapan bahasa tubuh yang sifatnya psikologis itu disimpan untuk hal-hal yang momentum,” ujar dia.
Prabowo Rekan Diskusi Lama
Sementara saat berbincang dengan Presiden Prabowo, Rocky mengatakan keduanya saling menyapa sebagai rekan diskusi lama. Dia menyebut pertemuan itu berlangsung santai dan disertai candaan.
“Sama Pak Prabowo ya saya salaman tadi, dan Pak Prabowo kan teman saya diskusi dulu-dulu. Dan beliau, ‘wah Pak Rocky terima kasih hadir, dan ternyata Pak Rocky masih disiden,’ gitu. Tapi Anda lihat wajahnya wajah bercanda. Emang saya disiden. Disiden tahu artinya kan?” Kata Rocky.


















