Melalui pertunjukan “Harmoni Semarang”, masyarakat diajak melihat perjalanan panjang Kota Semarang, mulai dari kehidupan masyarakat yang penuh kegembiraan, semangat perjuangan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang, hingga tradisi Dugderan yang menjadi simbol kebersamaan warga lintas agama dan lintas budaya.
Agustina menuturkan bahwa tradisi Dugderan menjadi bukti bagaimana masyarakat Semarang mampu mengubah keberagaman menjadi kekuatan pemersatu.
Berbeda dengan masa lalu ketika masyarakat dipisahkan berdasarkan kelompok etnis dan permukiman, kini warga Semarang hidup berdampingan, saling bekerja sama, dan membangun kota bersama.
“Semarang menunjukkan bahwa kemajuan kota tidak harus menghilangkan budaya. Justru budaya menjadi fondasi yang memperkuat persatuan, menghidupkan kreativitas, sekaligus menjadi daya tarik bagi pembangunan dan pariwisata,” ujarnya.
Hendardji menambahkan, semangat inilah yang membuat Kota Semarang semakin dikenal sebagai kota yang tidak hanya maju dari sisi ekonomi dan pembangunan, tetapi juga kuat dalam menjaga kerukunan sosial dan warisan budayanya.
“Budaya adalah perekat masyarakat. Ketika budaya tumbuh dan dihargai, maka persatuan, kebersamaan, dan kemajuan kota akan tumbuh bersama. Semarang telah menunjukkan hal itu, dan kami berharap capaian ini terus berlanjut,” tandas Hendardji.
















