Harum menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Kenaikan jumlah tamu asing bahkan mencapai 300 persen sejak periode Mei hingga Agustus 2026.
“Banyak ekspatriat dan wisman yang memanfaatkan momentum rupiah melemah untuk tinggal lebih lama (longer stay). Kebanyakan dari mereka berasal dari Eropa seperti Belanda, Belgia, Italia, serta dari Amerika, Jepang, dan China,” jelasnya.
Selama berada di Jawa Tengah, para wisman tersebut mayoritas menjadikan Kota Lama Semarang dan Kepulauan Karimunjawa sebagai destinasi tujuan utama. Meski dominasi wisman cukup tinggi, Harum menambahkan bahwa keberadaan tamu lokal dan sektor pemerintahan tetap memberikan dampak signifikan terhadap kestabilan tingkat hunian hotel.
“Bule-bule justru banyak yang ke Semarang. Bahkan tidak sedikit juga yang long stay di sini. Tapi tamu pemerintahan dan lokal juga tetap masuk,” pungkasnya.


















