Nelayan Pati Menjerit Harga Solar Nonsubsidi Melonjak Rp30.000/Liter

MATASEMARANG.COM – Nelayan Kabupaten Pati menjerit karena harga solar nonsubsidi yang biasa mereka gunakan melonjak hingga Rp30.000 per liter.

Kenaikan harga gila-gilaan itu menyebabkan banyak nelayan tidak bisa melaut. Mereka mendesak kenaikan harga solar hanya dua kali dari harga solar subsidi, menjadi sekitar Rp13.000-an per liter.

Menanggapi tuntutan nelayan yang berunjuk rasa, Senin, Pemerintah Kabupaten Pati menyatakan siap menyampaikan aspirasi nelayan terkait tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi yang memberatkan dan mengancam keberlangsungan penangkapan ikan di laut.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Mentan: Hilirisasi Bisa Perkuat Kurs, 1 Dolar AS Setara Rp1.000

Pelaksana tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan pihaknya memahami kondisi yang dihadapi nelayan. Kenaikan harga BBM jenis solar nonsubsidi saat ini dinilai sudah tidak lagi memungkinkan nelayan untuk melaut.

“Pemkab menyadari harga BBM saat ini sangat memberatkan bagi nelayan. Dengan harga sekarang, kami sudah hitung, nelayan tidak mungkin bisa melaut,” ujarnya.

Ia menambahkan sebelumnya dirinya juga menghadap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk memperjuangkan agar nelayan, khususnya di Kabupaten Pati, dapat memperoleh harga BBM subsidi yang lebih layak.

BACA JUGA  Redenominasi Rupiah Kembali Mencuat, BI: Tunggu Waktu yang Tepat

Jika aspirasi nelayan tidak segera ditindaklanjuti pemerintah pusat, kata dia, pihaknya siap mengawal perjuangan nelayan hingga ke tingkat pusat bersama DPRD setempat.

“Kalau aspirasi ini belum ditanggapi, kami akan ikut bersama nelayan untuk menyampaikan langsung ke pemerintah pusat,” ujarnya.

Risma juga menekankan bahwa persoalan BBM tidak hanya berdampak pada pemilik kapal, tetapi juga para anak buah kapal (ABK) yang menggunakan sistem bagi hasil. Kenaikan harga BBM berdampak langsung pada pendapatan mereka.

Pos terkait