Pemkot Semarang Siapkan Perwal BOP Rp25 Juta dalam Tiga Pekan

Menjawab Kritik Pansus: Manfaat Makro Butuh Waktu, Manfaat Mikro Sudah Ada

Salah satu anggota Pansus DPRD Kota Semarang yang mempertanyakan indikator keberhasilan program, seperti penurunan stunting, DBD, atau peningkatan pengelolaan sampah secara signifikan.

Ditegaskan Agustina jika Pemkot Semarang tidak menolak kritik itu. Justru, sepakat bahwa ke depan indikator makro perlu diperkuat.

Namun, Agustina juga mengingatkan bahwa dampak jangka pendek program ini sudah terasa di tingkat lingkungan. Peningkatan partisipasi warga dalam Posyandu berkontribusi pada deteksi dini stunting.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Koperasi Merah Putih Dinilai Mampu Bangun Ekosistem Pangan Berkelanjutan

Kerja bakti yang masif membantu mengurangi genangan air yang menjadi sarang nyamuk DBD. Pemilahan sampah di sumber mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Manfaat makro seperti penurunan angka stunting tidak bisa terjadi dalam satu tahun. Butuh intervensi berkelanjutan. Tapi kami sudah melihat gerbongnya bergerak. Posyandu lebih hidup, lingkungan lebih bersih, warga lebih gotong royong. Itu adalah fondasi yang tidak kalah penting,” ujar Agustina.

Perwal Baru: Bukan Mengubah Arah Tapi Menyempurnakan Fleksibilitas

Target penyelesaian Perwal dalam tiga minggu bukan berarti program sebelumnya gagal. Sebaliknya, ini adalah bentuk responsivitas Pemkot Semarang terhadap aspirasi warga yang menginginkan fleksibilitas lebih, misalnya dalam hal batasan nilai pembelian barang dan pemanfaatan untuk infrastruktur lingkungan skala kecil.

BACA JUGA  Berdiri di Atas Drainase, Lapak PKL Jalan Gajah Raya Dibongkar Satpol PP

“Kami menyerap masukan. Ada yang ingin dana ini bisa dipakai untuk membeli pasir atau semen untuk perbaikan drainase kecil. Itu sedang kami kaji. Tapi jangan sampai tumpang tindih dengan kewenangan dinas teknis. Yang jelas, esensi program tetap sama; memperkuat RT sebagai ujung tombak,” jelas Agustina.

Pos terkait