Dirinya lebih jauh menjelaskan, adanya tren penurunan Transfer Ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat menuntut pemerintah daerah untuk lebih kreatif dalam mencari alternatif pendanaan.
Meski demikian, Handi menggarisbawahi bahwa strategi peningkatan fiskal daerah tidak boleh mengorbankan kesejahteraan warga.
“Dengan penurunan TKD itu, masing-masing daerah diminta kreatif bagaimana meningkatkan PAD di tengah kondisi tersebut, tetapi garis bawahnya adalah tanpa membebani masyarakat. Artinya, tidak ada skema kenaikan pajak, tetapi PAD yang harus naik,” tuturnya.
Lebih lanjut, terkait detail teknis potensi mana saja yang akan digali, ia memilih untuk mempelajarinya lebih dalam dulu bersama tim internal agar tidak terkesan mendahului.
Ketika ditanya mengenai alasannya mengikuti seleksi terbuka di Kota Semarang, Handi menjelaskan bahwa statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) menuntut kesiapan untuk mengabdi di mana saja sebagai pemersatu bangsa.
Kesempatan seleksi terbuka yang berlaku secara nasional ini ia manfaatkan setelah melihat potensi luar biasa yang dimiliki Kota Semarang yang menurut pandangannya Semarang memiliki keunggulan geografis yang sangat unik jika dibandingkan dengan kota-kota metropolitan lain di pulau Jawa seperti Surabaya maupun Bandung.
“Semarang ini Kota Metropolis. Hal menarik di Semarang yang tidak dimiliki Bandung adalah Semarang punya gunung, punya laut, dan segala macam potensi. Di Google pun saya lihat banyak sekali investasi yang masuk. Tentu bagi dunia private (swasta), ada hal menarik yang membuat mereka berbondong-bondong datang ke Semarang dan bukan ke daerah lain,” jelasnya.


















