Agustina juga menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi.
“MBG bukan sekadar program makan, ini investasi untuk masa depan. Dari sini kualitas sumber daya manusia kita dibentuk,” tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui BGN, menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan daerah dan masyarakat.
Deputi Bidang Pengadaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional, Brigjen (Purn) Suardi Samiran, menyampaikan bahwa rantai pasok program MBG justru menjadi peluang bagi masyarakat lokal.
“Bahan pangan seperti sayur, telur, dan lainnya berasal dari masyarakat. Artinya, program ini juga menggerakkan ekonomi lokal karena melibatkan banyak pihak di daerah,” tuturnya.
Lebih lanjut Agustina juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini memberikan dampak positif bagi Kota Semarang, termasuk dari sisi ekonomi. “Ini sangat positif untuk perkembangan ekonomi di Kota Semarang,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti peserta dari dalam dan luar negeri yang turut mendorong aktivitas di berbagai sektor selama pelaksanaan berlangsung.
Saat ini, di Kota Semarang telah beroperasi 174 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjangkau lebih dari 281 ribu penerima manfaat, sebagai bentuk kesiapan daerah dalam mendukung program nasional MBG.
Forum ini juga mempertemukan pemerintah pusat, daerah, akademisi, hingga organisasi internasional untuk menyelaraskan kebijakan dan mempercepat implementasi program di berbagai wilayah.


















