Konsep tersebut menjelaskan bagaimana sebuah keyakinan pada masa depan atau akhir zaman justru dapat dikelola menjadi perilaku politik yang konstruktif di masa kini.
“Penelitian ini membuktikan bahwa Mahdiisme di kalangan santri bukanlah motor radikalisasi. Sebaliknya, hal tersebut berfungsi sebagai penguat komitmen kebangsaan, penerimaan terhadap kebhinnekaan, serta pengukuhan legitimasi terhadap Pancasila dan NKRI,” katanya dikutip Antara.
Dengan penelitian doktoralnya itu, Muthohar sukses menyandang gelar doktor bidang studi Islam dan tercatat sebagai doktor ke-407 UIN Walisongo Semarang.
“Saya berharap kajian ini dapat memberikan perspektif baru bagi pembuat kebijakan dan akademisi dalam melihat relasi antara teologi dan politik di Indonesia secara lebih kontekstual dan non-reduksionistik,” katanya. ***


















