Studi: Keyakinan kepada Imam Mahdi Perkuat Moderasi Beragama

Imam Mahdi
Ilustrasi. Dok. Bayynat.org.lb

MATASEMARANG.COM – Keyakinan kalangan santri kepada Imam Mahdi tidak berujung pada gerakan politik radikal, tetapi justru memperkuat moderasi beragama.

“Selama ini narasi Islam transnasional sering kali mengeksploitasi doktrin Imam Mahdi untuk memobilisasi massa guna merestorasi sistem khilafah,” kata peneliti UIN Walisongo Semarang Ahmad Muthohar di Semarang, Rabu.

Dalam penelitiannya yang menjadi disertasi doktoral berjudul “Relasi Paradoksal antara Mahdiisme dan Gerakan Antikhilafah: Studi atas Perilaku Politik Santri”, ia justru menemukan realitas yang berbeda di Indonesia, terutama di kalangan santri.
Menurut dia, terdapat paradoks yang produktif bahwa santri tetap meyakini eskatologi Imam Mahdi sebagai kerangka etis. Namun di sisi lain mereka menjadi garda terdepan dalam menolak gerakan khilafah kontemporer.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Adies Klarifikasi Soal Tunjangan Anggota DPR

Melalui pendekatan kualitatif dan analisis teologi kritis, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa keyakinan pada Imam Mahdi di pesantren dialihkan menjadi energi untuk kesalehan personal dan perbaikan etika sosial, bukan tuntutan politik institusional.

Selain itu, pemaknaan doktrin yang beragam menghasilkan perilaku politik yang tetap berkarakter moderat dan menghargai ruang publik.

Penelitian itu juga menemukan bahwa semakin kritis pemahaman santri terhadap teks maka semakin kuat penolakan mereka terhadap khilafah, karena sistem tersebut dianggap sebagai produk sejarah, dan bukan keharusan teologis yang harus direplikasi dalam negara bangsa modern.

BACA JUGA  PWI Jateng Desak Pemerintah Terbitkan Aturan Turunan "Publisher Rights"

Salah satu sumbangsih intelektual terbesar dari disertasi tersebut adalah lahirnya konsep paradoks produktif Mahdiisme.

Pos terkait