“Ini merupakan wujud gotong royong dalam membangun ekosistem pendidikan di Jawa Tengah yang sehat dan solid,” ujarnya.
Ia menegaskan, turnamen tidak semata-mata ditujukan untuk mencari juara. Olahraga justru menjadi media untuk memperkuat persaudaraan, membangun jejaring, serta membuka peluang kolaborasi antarperguruan tinggi.
“Turnamen ini sekali lagi bukan sekadar untuk mencari juara. Yang lebih penting adalah melalui tenis ini dapat memperkuat persaudaraan, membangun jejaring, dan menumbuhkan semangat kolaborasi,” katanya.
Menurutnya, hubungan yang terbangun melalui turnamen diharapkan dapat dilanjutkan dalam bentuk kerja sama riset, pengabdian kepada masyarakat, pelatihan, workshop, maupun kegiatan akademik lainnya. Karena itu, dia mendorong agar informasi turnamen juga digaungkan kepada PTS di wilayah LLDIKTI lainnya.
Rektor Unimus Prof. Masrukhi turut menyambut positif penyelenggaraan turnamen. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum pembinaan PTS sekaligus memperluas ruang komunikasi antarkampus.
“Ajang ini sangat positif untuk pembinaan kami semua, khususnya perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah,” terangnya.
Sementara itu, Rektor UPGRIS Sapto Budoyo menilai lapangan tenis dapat menjadi ruang alternatif untuk memperluas pembahasan mengenai tridarma perguruan tinggi. Interaksi yang terbangun dalam suasana olahraga dinilai dapat memunculkan berbagai peluang kerja sama baru.
“Tenis ini bukan merupakan tujuan mencari kemenangan, tetapi mudah-mudahan menjadi sarana untuk mencapai bagaimana perguruan tinggi melaksanakan tridarmanya, baik pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, penelitian dan lain sebagainya,” tandasnya.

















