“Beruntung saya bisa memegang kayu yang tersangkut dan bisa jadi tempat berpegangan. Saat itu yang teringat hanya anak-anak saya,” katanya.
Dengan tenaga seadanya dia memanggil anak-anaknya, tapi tidak ada yang menjawab. “Yang terdengar hanya suara lumpur yang mengalir deras menghantam rumah,” katanya.
Sambil berpegangan di sebatang kayu itu
dia menggapai apa yang dapat digapai dan berjalan secara perlahan meskipun berat di dalam lumpur.
“Waktu itu saya sudah pasrah dan mengira anak-anak dan ayah saya sudah hanyut,” ujarnya lirih.
Namun, tak lama kemudian dia mendengar suara memanggilnya. “Mak, ini Azis.”
Mendengar itu, dia bergerak mencari asal suara itu dan langsung menarik anaknya dari lumpur yang telah menutupi hampir sebagian kepala anaknya.
Seusai menyelamatkan anaknya yang berumur 15 tahun itu, lalu dia kembali mencari anaknya yang lain sambil memanggil-manggil nama dengan penuh harapan.
“Alhamdulillah suara saya dijawab oleh anak saya yang paling kecil Asyifa dengan suara yang sayup-sayup minta tolong,” ujarnya.
Mendengar itu, dia langsung kembali tertatih-tatih mencari asal suara itu karena tidak tau dari mana arahnya dalam kondisi gelap gulita.
Sembari memanggil-manggil nama anaknya, dia menjangkau apa yang bisa jangkau di kegelapan yang mencekam itu.
Akhirnya usahanya berhasil dengan menjangkau baju anaknya. Asyifa diangkatnya secara perlahan karena sudah tertimbun material longsor dalam keadaan lemah.
Tak lama kemudian datang warga sekitar memberikan bantuan dan mencari dua orang anaknya lagi Akbar (17) dan Anton (22). Berkat keyakinan akhirnya keempat anaknya berhasil diselamatkan.


















