Alasan Dedi Mulyadi Minta Pedagang Setop Jual Kopi Sasetan

MATASEMARANG.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak henti membuat gebrakan. Hampir di semua sektor Kang Dedi Mulyadi menciptakan perubahan.

Gebrakan kali ini KDM minta para pedagang di kawasan wisata Ciwidey dan Pangalengan menghentikan dominasi kopi saset. Pedagang diminta beralih menjual kopi tubruk lokal guna membangun identitas wisata yang berkarakter.

Langkah itu diambil mengingat ironi yang terjadi di Kabupaten Bandung sebagai produsen kopi arabika terbesar di Jawa Barat, namun produk saset pabrikan justru lebih merajai warung-warung di objek wisata ketimbang hasil bumi sendiri.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  DPRD Harap BPR Kota Semarang Perhatikan Tata Kelola Manajemen Risiko

“Bandung itu penghasil kopi terbaik, tetapi orang yang meminum kopi khas Bandung belum benar-benar merasakannya. Maka di Ciwidey dan Pangalengan, terutama kios yang menjual kopi kemasan saset, seharusnya menjual kopi tumbuk khas hutan Bandung,” ujar Dedi dalam keterangan di Bandung, Selasa.

Pria yang akrab disapa KDM itu menegaskan bahwa peralihan ke kopi lokal bukan sekadar urusan rasa, melainkan upaya memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan daya ingat bagi wisatawan melalui aroma khas daerah.

BACA JUGA  Nyali Anggota DPRD sebagai Detektif hingga Mengejar Truk Berisi Solar Subsidi

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Jawa Barat, Kabupaten Bandung adalah “raja” kopi arabika dengan tren produksi yang terus meningkat. Pada 2024, produksinya menembus 8.567 ton, melonjak signifikan dibandingkan tahun 2017 yang berada di angka 5.277 ton.

Selain kopi, Dedi juga menyoroti potensi teh Malabar, Ciwidey, dan Pangalengan yang seharusnya menjadi suguhan utama bagi pengunjung.

Menurut dia, pengalaman kuliner autentik seperti menikmati kopi tumbuk, teh lokal, hingga lotek asli wilayah tersebut akan memberikan keterikatan emosional bagi wisatawan.

Pos terkait