MATASEMARANG.COM – Dampak penurunan muka tanah hingga 15 cm per tahun (land subsidence) yang melanda Kota Semarang kian mengkhawatirkan.
Untuk itu, Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang mengambil langkah taktis dengan menggandeng 16 lembaga pendidikan, mulai dari universitas ternama hingga barisan SMA/SMK sederajat.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang digelar langsung di Kantor PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Rabu 24 Juni 2026.
Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang Ady Setiawan membeberkan fakta bahwa rata-rata penurunan muka tanah di Kota Atlas saat ini telah menembus angka 1 hingga 15 sentimeter setiap tahunnya.
Kondisi kritis ini dipicu oleh eksploitasi air bawah tanah secara masif yang masih terus berlangsung.
“Jika penyedotan air tanah secara ugal-ugalan ini terus dibiarkan, Kota Semarang akan menghadapi bencana ekologis yang jauh lebih destruktif di masa depan. Solusinya, kita harus bermigrasi total ke pemanfaatan air permukaan sebagai sumber air baku utama,” kata pria yang akrab disapa Wawan tersebut.
Wawan menilai, kerumitan tata kelola air bersih di era modern tidak akan bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan ruang kerja birokrasi atau internal perusahaan daerah saja.
Oleh sebab itu, kontribusi pemikiran dari kalangan akademisi, peneliti, hingga pelajar sangat dibutuhkan untuk melahirkan inovasi berbasis sains.
Siapkan Perusahaan Jadi Laboratorium Nyata
Kerja sama masif ini melibatkan deretan kampus beken seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Semarang (USM), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), UIN Walisongo, Untag Semarang, Universitas IVET, Universitas STEKOM, Politeknik Negeri Semarang (Polines), dan Yayasan Pharmasi.
















