“Setelah operasi selesai, kondisi pasien baik-baik saja, sudah sadar penuh, dan kembali ke ruang perawatan. Bahkan, pada malam harinya pasien masih kooperatif, bisa berkomunikasi, dan sempat menggunakan handphone-nya,” jelasnya.
Pengawasan intensif juga terus dilakukan oleh tenaga medis. Berdasarkan catatan perawat, petugas medis masih masuk ke ruang perawatan pada pukul 23.00 WIB malam dan dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Saat dicek pukul 03.00 WIB, pasien masih dalam posisi tertidur, bernapas normal, dan menunjukkan pergerakan tubuh.
Namun, situasi berubah drastis saat perawat kembali mendatangi ruangan pada pukul 05.30 WIB untuk membangunkan pasien dan menawarkan persiapan pagi (sibin). Pasien ditemukan sudah tidak sadarkan diri, tanpa denyut jantung dan napas.
Penyebab Kematian Masih Misterius
Pihak RS Primaya Semarang mengaku terkejut dengan kejadian tersebut mengingat kondisi pasien sebelum ditemukan meninggal dalam keadaan stabil.
dr. Aditya menyatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti kematian korban karena masih dalam tahap penelusuran rekam medis dan penyusunan kronologi.
“Secara medis kami pastinya terkejut karena sebelumnya kami masih berkomunikasi, pasien tertidur, dan pagi-pagi tiba-tiba sudah tidak ada. Penyebabnya masih menjadi dugaan, ada faktor yang bisa diduga maupun tidak terduga,” jelasnya.
Terkait dugaan adanya alergi obat pascaoperasi, pihak rumah sakit menilai kemungkinan tersebut sangat kecil. Pasalnya, obat-obatan yang diberikan pascaoperasi sama persis dengan obat yang diberikan sebelum operasi tanpa ada riwayat alergi yang dikeluhkan pasien sejak awal masuk.

















