Dalam ajang KTIQ MTQ Nasional, konsistensi Aulia teruji sejak awal. Ia berhasil mempertahankan posisi runner-up secara stabil mulai dari babak penyisihan, semifinal, hingga laga final mengungguli berbagai provinsi pesaing kuat seperti Kalimantan Timur.
Keunggulan karya ilmiahnya terletak pada keberaniannya mengulas isu-isu kontemporer yang relevan melalui kacamata Al-Qur’an.
“Pada babak penyisihan, saya mengangkat tema kerukunan umat beragama, yaitu penggunaan teknologi deepfake dan fitnah digital serta bagaimana strategi mengatasi disinformasi di media sosial,” ujarnya.
Sementara pada babak semifinal dan final, ia menyoroti dampak lingkungan dari industri pakaian cepat saji (fast fashion). Melalui pendekatan nilai-nilai Al-Qur’an, ia mengkritik bahaya limbah tekstil sekaligus menawarkan gagasan daur ulang bahan baku untuk mendukung industri fashion yang berkelanjutan (sustainable fashion).
Keberhasilan Aulia menjadi bukti bahwa generasi muda Semarang tidak hanya mahir dalam seni membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu menghadirkan pemikiran kritis bernafaskan Islam untuk menjawab tantangan zaman.


















