- Kasus DBD di Semarang turun drastis, angka kasus di bawah 10
- Intervensi teknologi Wolbachia dan kesadaran masyarakat berperan besar dalam penurunan angka kasus DBD
MATASEMARANG.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang sangat signifikan sepanjang tahun 2026.
Akumulasi kasus DBD di ibu kota Jawa Tengah ini tercatat anjlok drastis dan berada di bawah angka 10 kasus.
Kepala Dinkes Kota Semarang M. Abdul Hakam mengungkapkan bahwa capaian positif ini merupakan buah dari konsistensi program penyebaran nyamuk ber-Wolbachia yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir di Kota Semarang.
“Alhamdulillah kasus DBD turun drastis. Sampai Agustus ini, kasus DBD di Semarang bisa dihitung dengan jari, bahkan tidak ada 10 kasus. Intervensi teknologi Wolbachia terbukti sangat bermanfaat dan efektif hingga 77 persen dalam mencegah kejadian demam berdarah,” kata Hakam, Jumat, 30 Oktober 2026.
Hakam turut meluruskan kekhawatiran masyarakat yang kerap mengeluhkan banyaknya populasi nyamuk di pemukiman selama musim kemarau. Ia menjelaskan, pada suhu udara yang panas, siklus tumbuh kembang nyamuk Aedes aegypti dari telur, jentik, hingga menjadi nyamuk dewasa memang berlangsung jauh lebih cepat.
Selain itu, jam terbang nyamuk untuk menggigit juga berdurasi lebih panjang di musim panas. Jika pada musim hujan nyamuk aktif sekitar 3 jam, maka pada musim kemarau durasi aktifnya bisa meningkat hingga 6 jam per hari. Nyamuk juga cenderung masuk ke dalam rumah untuk mencari genangan air karena kondisi di luar yang kering.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik. Sebab, mayoritas nyamuk Aedes aegypti yang ada saat ini sudah mengandung bakteri Wolbachia.

















