Dia menjelaskan, program B50 mempunyai sejarah panjang sejak 15 tahun lalu, dan bahan bakar B50 itu hanya ada di Indonesia. Bahkan saat ini di Indonesia, capaiannya sudah nomor satu di dunia.
“Bahkan tidak ada rujukan teknis yang bisa kita akses. Jadi tidak ada contohnya, ini yang membuat kebanggaan kita sendiri. Bahkan, saat ini negara lain buru-buru berbondong-bondong ke negara kita, berkontak bagaimana menjalankan B50, karena benar rujukan, contohnya tidak ada selain di kita,” katanya.
Oleh karena itu, kata dia, uji penggunaan B50 ini merupakan langkah yang sangat penting dan harus dilakukan saat ini. Pihaknya berharap pelaksanaan uji penggunaan B50 bisa lancar, dan bisa bersama menyaksikan bagaimana proses penggunaan bahan bakar ini.
“Dan yang perlu diketahui badan usaha saat ini juga meningkatkan spesifikasi dari B50, spesifikasi dari FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang dicampur dengan solar yang disediakan oleh Pertamina Patra Niaga,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI Heru Kuswanto mengatakan selaku perwakilan direksi PT KAI, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan uji penggunaan B50 pada sektor kereta api.
“Tujuan utama biodiesel B50, campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar adalah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, dan mewujudkan energi hijau yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Dia mengatakan, manfaat strategis dari program B50 di Indonesia adalah untuk mendukung kemandirian energi, pengurangan emisi karbon, ketahanan ekonomi, diversifikasi energi, dan optimalisasi sektor domestik.


















