“Teknologi adalah alat yang diciptakan manusia. Sehebat apa pun teknologi, ia tidak memiliki jiwa dan rasa. Mengutip Bung Karno, Not the gun wins the war, but the man behind the gun. Bukan senjata yang memenangkan pertempuran, melainkan orang yang memegang senjata itu. Karena itu, yang harus terus kita siapkan adalah manusianya,” ujarnya.
Agustina juga mengajak mahasiswa untuk tidak membatasi diri hanya sebagai pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, organisasi menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk membangun jejaring, mengasah kepemimpinan, serta belajar berkolaborasi sebelum terjun ke masyarakat.
“Anak-anak muda harus berani bermimpi lebih besar. Jangan hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan pekerjaan dan memberi manfaat bagi orang lain. Organisasi menjadi sekolah kehidupan yang melahirkan banyak pemimpin bangsa,” katanya.
Sebagai bentuk keberpihakan terhadap masa depan generasi muda, Pemerintah Kota Semarang terus menghadirkan berbagai program yang membuka ruang tumbuh bagi anak muda, termasuk melalui penguatan ekonomi lokal. Salah satunya lewat Program Waras Ekonomi, yang bertujuan memperkuat daya saing UMKM agar mampu berkembang sekaligus membuka lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Agustina mengajak HMI menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendampingi pelaku UMKM, baik yang telah siap naik kelas maupun usaha rumah tangga yang masih membutuhkan pendampingan.
“Saya ingin anak-anak muda tidak hanya menjadi pengamat pembangunan, tetapi ikut terlibat langsung. Mari bersama-sama mendampingi UMKM agar semakin kuat, sehingga pertumbuhan Kota Semarang benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” ungkapnya.
















