Bentuknya yang padat dan lengket merepresentasikan eratnya tali persaudaraan setelah saling memaafkan. Sementara balutan daun pisang yang membungkus ketan mencerminkan harapan agar manusia mampu menjaga laku hidupnya tetap rapi, tertata, dan bernilai.
Lopis dibuat dari beras ketan yang, setelah direbus, menjadi lengket dan menyatu. Ini melambangkan persatuan atau kraket (erat). Warnanya yang putih dimaknai sebagai simbol kebersihan dan kesucian, selaras dengan semangat kembali fitri dalam suasana Lebaran.
Bungkus daun pisang yang digunakan juga memiliki makna simbolik, sebagai perlambang Islam dan kemakmuran, bahwa ajaran Islam senantiasa menumbuhkan kebaikan serta menjaga karunia Tuhan dalam kehidupan manusia. Karena itu, daun pisang yang dipilih tidak boleh terlalu tua maupun terlalu muda, sebab keduanya akan memengaruhi cita rasa lopis.
Ikatan pembungkus lopis menggunakan serat pelepah pisang yang melambangkan kekuatan. Maknanya, kondisi yang telah dicapai setelah kembali fitri perlu dijaga agar tidak luntur, bahkan diharapkan terus bertambah dan meningkat dalam kebaikan.
Pengikat tersebut sekaligus menjadi simbol keterikatan manusia dalam menjalin silaturahmi antar-Muslim. Pada hari ketujuh Syawal, lopis ini kemudian dibagikan kepada warga dan para pengunjung yang datang menyaksikan prosesi pemotongan panganan tradisional tersebut.
Sejarah
Tradisi Syawalan dengan pembuatan lopis di Krapyak pertama kali dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, seorang ulama setempat yang masih memiliki garis keturunan Tumenggung Bahurekso, Senopati Mataram.


















