Pada mulanya, KH Abdullah Sirodj secara rutin melaksanakan puasa Syawal. Praktik ibadah ini kemudian diikuti masyarakat Krapyak dan warga Pekalongan pada umumnya. Akibatnya, meskipun suasana Lebaran telah tiba, tradisi bersilaturahmi belum sepenuhnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang masih melanjutkan puasa Syawal.
Barulah pada hari kedelapan Syawal, atau Sabtu (28/3), suasana Lebaran benar-benar terasa hidup di tengah masyarakat.
Tradisi Syawalan sendiri memiliki akar panjang dalam sejarah Islam di Jawa. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa Syawalan berkembang sejak masa dakwah Wali Songo, ketika para ulama memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.
Di Pekalongan yang sejak abad ke-17 dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat pertemuan berbagai budaya, tradisi ini tumbuh kuat sebagai ruang silaturahmi lanjutan setelah Idul Fitri sekaligus ungkapan syukur atas berakhirnya Ramadan.
Tak heran jika lopis kemudian menjadi sajian utama. Berbeda dengan daerah lain, lopis khas Pekalongan dikenal berukuran besar dan dimasak dalam waktu panjang, bahkan hampir satu hari penuh.
Proses tersebut bukan sekadar teknik memasak, melainkan juga mencerminkan nilai kesabaran dan ketekunan, dua prinsip hidup yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pesisir.
Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengimbau masyarakat agar tidak memaknai tradisi pemotongan lopis secara keliru hingga mengarah pada praktik syirik. Menurutnya, tradisi lopisan justru menjadi warisan budaya yang menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan, khususnya bagi warga Krapyak sebagai tuan rumah.


















