Tradisi pemotongan lopis yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini diharapkan dapat dikemas semakin meriah. Selain menjadi ajang silaturahmi, perayaan tersebut juga dinilai sebagai aset potensial untuk menarik kunjungan wisatawan.
Dengan demikian, tradisi Syawalan yang dipadukan dengan sektor pariwisata diharapkan mampu mendorong peningkatan pendapatan asli daerah.
Sementara itu, Humas Festival Lopis Raksasa, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa proses pembuatan lopis telah dimulai sejak Senin (23/3) dan dilakukan secara bertahap hingga mencapai tahap akhir.
“Pembuatan dimulai hari Senin pukul 06.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan lagi hingga malam berikutnya untuk proses pembalikan dan nantinya akan dilakukan pengentasan,” katanya.
Secara keseluruhan, proses pembuatan lopis raksasa ini memakan waktu sekitar tiga hari penuh atau 3 x 24 jam. Seluruh tahapan dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan kekompakan warga, mengingat ukuran lopis yang jauh lebih besar dibandingkan lopis pada umumnya.
Lopis bukan sekadar makanan tradisional. Panganan ini menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menyatukan nilai religius, sosial, dan budaya dalam satu sajian yang tampak sederhana, namun sarat makna.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan lopis Syawalan di Pekalongan menjadi bukti bahwa tradisi tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus hidup dan dimaknai ulang oleh generasi yang setia menjaganya. [Ant]


















