Nawal menyampaikan, beragam tantangan yang mengakibatkan tingkat literasi keuangan perempuan masih rendah ketimbang laki-laki.
Yakni, ketidakadilan gender yang dialami perempuan, seperti dihadapkan pada beban ganda bekerja dan mengurus rumah tangga, namun bukan pengambil keputusan utama, terutama pada urusan besar.
Tantangan berikutnya, jenis pekerjaan dan penghasilan perempuan yang rendah. Pada 2023, jumlah perempuan tenaga profesional di Jawa Tengah hanya sebesar 50,00 persen.
Kemudian sumbangan pendapatan perempuan di Jawa Tengah masih dibawah angka nasional, yaitu hanya 35,21 persen. Angkatan kerja perempuan di Jawa Tengah juga masih jauh di bawah angkatan kerja laki-laki.
Berdasarkan Profile Gender 2023, angkatan kerja perempuan hanya sebesar 58,31, sementara angkatan kerja laki-laki mencapai 83,74.
“Tantangan ketiga, adalah akses informasi dan pengetahuan keuangan yang rendah. Perempuan masih jarang mendapatkan kesempatan pelatihan-pelatihan terkait dengan keuangan. Perempuan juga sering menjadi target kejahatan terkait perbankan dan keuangan, seperti penipuan, pencucian uang, jeratan hutang online, kredit online ilegal, investasi bodong, peretasan/pencurian data, dan sebagainya,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, menurut Nawal, literasi atau pengetahuan terkait keuangan, khususnya perencanaan keuangan, penting dan bermanfaat bagi perempuan.
Di antaranya, mereka menjadi mandiri secara keuangan, karena tidak bergantung secara keuangan kepada pihak lain. Kemudian memiliki masa depan yang aman, karena memiliki perencanaan keuangan untuk hari tua atau pension, seperti memiliki tabungan, asuransi, investasi, property, dan sebagainya.


















