Kemarau, Produksi Garam Kedungkarang Ditarget 70 Ton per Hektare

ilustrasi petani garam (pixabay/ TruongDinhAnh)
ilustrasi petani garam (pixabay/ TruongDinhAnh)

MATASEMARANG.COM – Menjelang musim kemarau, petani garam di Desa Kedungkarang, Kecamatan Wedung, mulai mempersiapkan lahan produksi.

Berbagai sarana seperti saluran irigasi, tanggul, hingga pemasangan geo membrane diperbaiki untuk menunjang hasil panen optimal.

Kepala Desa Kedungkarang Muhdi mengatakan saat ini petani fokus pada tahap awal persiapan, termasuk pengeringan lahan tambak garam. Produksi diperkirakan dimulai pada bulan Juni atau Juli.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Bupati Kudus Ajak ASN Sumbang PPPK Paruh Waktu yang Tak Dapat THR

“Saat ini para petani garam sedang dalam proses persiapan seperti pengeringan lahan, biasanya akan dimulai nanti di musim kemarau,” ujarnya.

Muhdi menjelaskan, sebagian besar masyarakat desa menggantungkan hidup sebagai petani garam dan nelayan.

Saat kemarau panjang, produksi garam melimpah, bahkan satu hektare lahan bisa menghasilkan lebih dari 70 ton garam.

Pola penjualan biasanya dilakukan bertahap: hasil awal langsung dijual, sementara panen berikutnya disimpan di gudang masing-masing atau di Gedung Garam Nasional (GGN).

BACA JUGA  21 Penduduk Hilang Akibat Tanah Longsor di Cilacap

Keberadaan GGN di Kedungkarang menjadi solusi menjaga stabilitas harga. Gudang yang dibangun pemerintah melalui Dinas Kelautan ini berkapasitas puluhan ribu ton dan diperuntukkan bagi petani garam.

“Melalui sistem koperasi, petani bisa menyimpan garam di GGN. Minimal setiap petani menaruh modal sekitar 25 karung. Nantinya, saat harga garam naik, baru dijual,” jelas Muhdi.

Distribusi garam dari Kedungkarang telah menjangkau berbagai daerah seperti Solo, Jakarta, hingga Sumatera, dengan pengiriman mencapai 7–10 kontainer saat musim kemarau.

Pos terkait