Ia optimistis pasar memiliki kapasitas menyerap obligasi daerah, seiring jumlah investor pasar modal Indonesia yang kini mendekati 20 juta investor.
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Jateng Fanny Rifqi El Fuad menambahkan pembiayaan melalui pasar modal berbeda dengan perbankan karena dana berasal dari masyarakat atau investor.
“Obligasi daerah memiliki karakteristik dapat diperjualbelikan kembali di pasar, sehingga investor memiliki fleksibilitas ketika membutuhkan likuiditas,” ujarnya.
Fanny menilai perkembangan teknologi keuangan dan integrasi layanan perbankan dengan pasar modal semakin mempermudah masyarakat membeli instrumen investasi melalui aplikasi mobile banking maupun platform digital.
“Ke depan, instrumen seperti obligasi daerah juga berpotensi semakin likuid jika dikemas dalam bentuk reksa dana,” imbuhnya.


















