Bagi anak, ia mengatakan waktu libur dua hari bisa digunakan bersama keluarga dan bermasyarakat, bagi guru untuk pengembangan potensi, bagi orang tua juga memiliki hak dalam mendidik anak-anaknya.
“Terlebih, umumnya orang tua juga saat ini liburnya (bekerja, red.) Sabtu dan Minggu. Berikutnya, anak-anak SMA/SMK itu rata-rata jarak rumah ke sekolah jauh sehingga membutuhkan transportasi. Dengan lima hari sekolah, lebih efisien,” katanya dikutip Antara.
PGRI Jateng menilai bahwa kekhawatiran soal pengawasan anak tidak dapat dijadikan alasan untuk kembali ke enam hari sekolah, mengingat pengawasan adalah tangung jawab bersama orang tua dan sekolah.
Ia mengaku pihaknya telah menyampaikan masukan resmi kepada pemerintah provinsi, termasuk melalui perwakilan yang hadir dalam forum pembahasan beberapa waktu lalu.
“Kami berharap pemerintah tidak mengubah kebijakan hanya karena pertimbangan sesaat. PGRI jelas menolak pemberlakuan enam hari sekolah. Apa yang sudah ada ini berjalan baik, mari kita kembangkan,” kata anggota DPD RI itu.
Ia menambahkan anak juga membutuhkan waktu di luar sekolah untuk pengembangan minat dan bakat, termasuk kegiatan olahraga atau soft skill yang tidak semuanya bisa disediakan sekolah.
“Kalau tidak ada waktu luang, bagaimana anak berlatih sepak bola, bulu tangkis, atau mengasah potensi yang justru bisa menjadi jalan sukses mereka,” pungkasnya. ***

















