Kemudian dari sisi domestik, Ibrahim menilai tingginya harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Selain itu, kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan kewajiban utang yang jatuh tempo juga menambah tekanan terhadap rupiah.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valas yang turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Ibrahim memandang pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan.
Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan barang, terutama barang impor yang terdampak kenaikan nilai tukar, serta memperkuat program bantuan sosial (bansos) yang tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat sektor riil dengan mendorong industrialisasi, pengembangan ekonomi biru, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat,” tuturnya.
Percepatan transformasi digital dan penyederhanaan regulasi investasi juga perlu dilakukan untuk menarik lebih banyak investasi asing masuk ke Indonesia.
Sebab, menurutnya, perbaikan iklim investasi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat fundamental ekonomi dan menopang stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang. [Ant]


















