Misi selanjutnya, memproyeksikan masa depan para santri untuk menjadi imam masjid agung dan tokoh masyarakat di daerah.
Ditanya tentang kontribusi konkret MAJT terhadap pesantren, Kiai Muhyiddin menjelaskan, dalam pengelolaan pesantren disepkati pembagian tugas. MAJT menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan Pesantren, diantaranya membangun ruang asrama lengkap dengan almari, kipas angin, kamar mandi, dan lainnya.
Sedangkan kontribusi Baznas kabupaten kota, berupa uang biaya hidup sebesar Rp2.000.000 per bulan kepada setiap santri yang direkomendasikannya. Dana tersebut rinciannya untuk beaya makan sehari-hari santri, laundri, wisata religi, sisanya Rp800.000 untuk uang saku santri.
Sedangkan Baznas Provinsi Jawa Tengah berkontribusi berupa dana operasional Pesantren sebesar Rp30.000.000 per bulan.
Muhyidin menjelaskan, keistimewaan santri ini, semuanya diprogramkan kuliah gratis di Unwahas, dengan beasiswa dari Baznas Provinsi Jawa Tengah 50 persen dan 50 persen dari Unwahas.
“Tidak hanya hafidz, tetapi mencetak hafiz Al-Qur’an yang berintelektual tinggi,” jelasnya.
Baznas kabupaten kota di Jateng memberi dukungan tinggi. Ketua Baznas Kabupaten Wonosobo, H Purwanto ditemui di ruang kerjanya menegaskan, dukungan Baznas Wonosobo terhadap program Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas Jateng, sebagai komitmen Baznas Wonosobo dalam memperkuat program pendidikan.
“Lahirnya Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas Jateng ini, sangat kami dukung dan kami bertekad ikut membesarkannya. Maka santri harus bersungguh-sungguh dalam menjalani pendidikan ini,” tegasnya.


















