“Kalau tidak lolos, ya saya dan suami sudah menyiapkan pilihan kedua yakni di SMP Negeri 32 melalui jalur afirmasi juga,” terangnya.
Sementara itu, strategi berbeda diterapkan oleh Oktavia, warga Mugas yang juga berencana mendaftarkan anaknya di SMP Negeri 2 Semarang.
Belajar dari pengalaman pendaftaran online saat anaknya masuk SD, Oktavia memilih untuk tidak terburu-buru mendaftarkan anaknya meskipun pendaftaran online sudah memasuki hari kedua.
“Saya belum mendaftar online, saya masih pantau jurnal dulu, jadi tidak terburu-buru, saya pakai strategi ini sama seperti saat memasukkan anak ke SD waktu itu,” ujar Oktavia.
Dengan nilai sementara sang anak sebesar 107,4 dari SD Negeri Pekunden, Oktavia memilih untuk terus memantau pergerakan jurnal nilai di website SPMB guna menghindari risiko salah daftar yang dapat membuang kesempatan emas anaknya masuk sekolah negeri.
“Kita masih memantau, takutnya nanti salah daftar jadinya terbuang kesempatannya kan sia-sia. Rencananya mau ke sini (SMP 2) kalau bisa pakai jalur prestasi. Tapi saat ini sepertinya jalur prestasi juga masih belum aman karena nilainya terjun bebas di jurnal,” bebernya.
Oktavia menjelaskan bahwa jalur domisili sudah tidak memungkinkan bagi anaknya karena faktor usia yang kalah bersaing dengan calon siswa lain yang lebih tua.
Oleh karena itu, ia menerapkan strategi bertahan dengan memantau jurnal hingga hari ke-4 atau menjelang penutupan pendaftaran untuk melihat posisi aman nilai anaknya.
Jika peluang di SMP Negeri 2 Semarang menipis, ia telah menyiapkan opsi sekolah negeri lain, seperti SMP Negeri 5 Semarang atau SMP Negeri 3 Semarang.


















