Belasan Anak Berambut Gimbal Ikuti Ruwatan di Candi Arjuna Dieng

Rangkaian ruwatan ditutup dengan tradisi Ngalap Berkah berupa makan bersama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat, pejabat, wisatawan domestik, dan wisatawan mancanegara turut membaur dalam tradisi tersebut.

Chaerudin mengatakan ruwatan anak berambut gimbal menjadi salah satu daya tarik DCF, karena mempertahankan tradisi masyarakat Dieng sekaligus memperkenalkannya kepada wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara.

Sebelumnya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan, Agus Widiatmoko pada pembukaan DCF 2026 di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jumat (28/8), mengatakan masyarakat harus tetap menjadi pemilik utama tradisi.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Bahaya Minum Kopi Saat Sahur Menurut Dokter dan Ahli Gizi

“Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi,” katanya.

Menurut dia, ruwatan rambut gimbal merupakan tradisi lintas generasi yang mengandung nilai spiritual, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, dan hubungan manusia dengan alam. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.

Ia menegaskan tradisi harus tetap menjadi living tradition dan masyarakat menjadi pemilik, pelaku, pengelola, sekaligus penerima manfaat utama.

Ia mendorong regenerasi pengetahuan budaya kepada generasi muda agar tradisi Dieng tetap hidup dan diwariskan lintas generasi. [Ant]

Pos terkait