Berdasarkan data permintaan dari pihak offtaker, komoditas yang paling banyak diminati adalah beras dengan 30 peminat, disusul cabai 25 peminat, minyak goreng 24 peminat, bawang merah 13 peminat, jagung 4 peminat, dan telur 3 peminat.
Sementara dari sisi penawaran atau pasokan, komoditas cabai didukung oleh 33 produsen, beras 28 produsen, jagung 25 produsen, bawang merah 20 produsen, telur ayam 4 produsen, serta minyak goreng 2 produsen.
Dari sisi kewilayahan, Kota Semarang dan Kabupaten Klaten mencatat potensi permintaan tertinggi dari sisi kebutuhan dengan masing-masing 11 peluang kerja sama.
Disusul oleh Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo yang masing-masing mencatat 7 potensi kerja sama.
Sebaliknya, dari sisi penyuplai, Kabupaten Demak dan Grobogan memimpin potensi pasokan terbesar dengan masing-masing 9 peluang kerja sama, diikuti Kabupaten Batang dan Brebes dengan masing-masing 7 potensi kerja sama.
Sebagai bentuk nyata dari inisiasi BI Jateng ini, sejumlah kesepakatan dagang langsung ditandatanani di tempat.
Beberapa di antaranya adalah kerja sama komoditas beras antara BUMP PT Kalingga Makmur Sejahtera (Jepara) dengan Gapoktan Karya Manunggal (Rembang), serta komitmen kerja sama multikomoditas antarpemerintah daerah di wilayah Banyumas Raya.
Didukung Pemprov untuk Jaga Stabilitas Fiskal
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang hadir dalam rakor tersebut mengatakan bahwa kolaborasi yang digagas BI sangat tepat momentumnya untuk menjaga tren positif inflasi Jateng di tengah ketidakpastian global.
“Prinsip rakor ini agar terjadi kerja sama di antara para bupati, produsen, dan offtaker, sehingga ketersediaan serta keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat tetap terjaga. Output akhirnya adalah inflasi Jawa Tengah tetap terkendali,” tegas Luthfi.


















