MATASEMARANG.COM – Pasar Kanjengan yang dilalap api pada Rabu, 29 April 2026 malam sekira pukul 22.00 WIB, menggegerkan warga Kota Semarang.
Di kawasan ini terdapat tiga entitas dalam satu letak geografis yang berdempetan, yakni Pasar Kanjengan, Pasar Johar, dan Pasar Yaik.
Di kompleks pasar tradisional ini, total sudah terjadi tiga kali kebakaran yang membuat para pedagang harus kembali mengais harapan yang menjadi abu.
Tiga kali tragedi kebakaran dalam 10 tahun terakhir memiliki kesamaan, yakni korsleting listrik yang dituding sebagai penyebab utamanya.
Kebakaran pertama terjadi pada Mei 2015 yang menghanguskan bangunan cagar budaya karya arsitek Thomas Karsten.
Kejadian tersebut menjadi pukulan berat saat Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di pengujung periode kepemimpinannya.
Sekitar setengah tahun berselang, tepatnya pada Februari 2016, kawasan komersial ini kembali membara.
Kali ini, Pasar Yaik yang berada tepat di samping bangunan fisik Pasar Johar Semarang yang menjadi sasaran keganasan api.
Kini, Pasar Yaik tinggal kenangan karena tidak ada lagi tersisa hingga berubah fungsi menjadi lahan terbuka dan terintegrasi dengan Aloon-aloon Masjid Agung Semarang.
Baru kemarin, kebakaran kembali terjadi di kawasan tersebut, tepatnya sebelah selatan Pasar Johar, yaitu Pasar Kanjengan.
Pemkot Semarang telah menyiapkan tempat baru untuk para korban kebakaran di lokasi yang tidak jauh, yaitu di Gedung Pasar Kanjengan Baru yang memiliki empat lantai.
“Kami dari Disdag akan segera melakukan relokasi bagi yang terdampak kebakaran supaya mereka bisa segera jualan lagi. Di pasar Kanjengan yang baru itu bisa menampung 100-150 pedagang,” kata Aniceto di bekas lokasi kebakaran Pasar Kanjengan, Kamis, 30 April 2026 pagi.


















