
Semangat persatuan tersebut ditunjukkan melalui tema yang diusung defile tuan rumah Jawa Tengah, yakni “Gumreget Nyawiji”.
“Ini kita tahu, ini adalah sebuah keberkahan buat kita bersama, tidak melihat suku, ras, agama, semuanya kumpul, kita bersatu. Jadi kita pengin satu menjadi satu kesatuan untuk membangun Jawa Tengah ini. Tidak melihat siapa-siapa, tidak ada yang ditinggalkan, kita ajak bersama-sama untuk maju,” terang Taj Yasin.
Antusiasme tinggi diutarakan oleh para peserta dari luar daerah. Kafilah Papua Tengah, misalnya, menurunkan 28 anggotanya untuk menari dan mengenakan Baju Adat Kamoro, Amungme, hingga Damal dengan atribut tradisional lengkap seperti tifa, rumbai, dan mahkota cenderawasih.
“Dalam kegiatan pawai ta’aruf kami menampilkan pakaian adat-adat di Papua Tengah. Menurut saya ini sudah terprepare (disiapkan) dengan baik dan memberikan kesan yang baik buat kita dari luar daerah tentunya. Alhamdulillah meriah,” tutur Ketua Kafilah Papua Tengah Wahyu Budi Santoso.
Pengalaman serupa disampaikan oleh perwakilan Kafilah Kepulauan Riau Sofyan Sulaiman yang mengusung miniatur Tugu Bahasa sebagai bentuk penghormatan atas sejarah bahasa Melayu sebagai akar bahasa nasional.
“Kita dalam pawai karnaval ini menunjukkan Tugu Bahasa. Bahasa sebagai salah satu budaya nasional. Saya pikir masyarakat Jawa Tengah dengan event MTQ nasional ini sangat memberikan respon dan turut bergembira melihat setiap karnaval yang berasal dari setiap provinsi,” kata perwakilan Kafilah Kepulauan Riau, Sofyan Sulaiman.


















