MATASEMARANG.COM – Menjelang Ramadan 1447 H/2026 M, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan perbedaan penetapan awal puasa maupun Idulfitri sebagai sumber perpecahan.
Pesan ini disampaikan dalam tausiyah di Gedung KHMA Sahal Mahfudh, Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Sabtu 14 Februari 2026.
Ketua Umum MUI Jawa Tengah KH Ahmad Darodji menegaskan bahwa perbedaan metode penetapan awal Ramadan dan Idulfitri tidak boleh mengurangi semangat persaudaraan.
“Jangan jadikan perbedaan sebagai alat untuk berpecah belah. Tetap jaga ukhuwah, menjaga persaudaraan, dan merajut kebersamaan,” ujarnya.
Dalam tausiyah yang ditandatangani oleh jajaran pengurus MUI Jawa Tengah, Ramadan ditegaskan sebagai bulan tarbiyah yang mendidik umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, serta menjaga kondusivitas wilayah.
Umat Islam juga diajak memperbanyak amal sosial, termasuk menyegerakan penunaian zakat mal, zakat fitrah, infak, dan sedekah.
Penyaluran zakat diimbau melalui lembaga resmi seperti Baznas, LAZ, dan UPZ agar lebih tepat sasaran dan terkoordinasi.
MUI Jawa Tengah juga mengingatkan pentingnya solidaritas sosial, terutama bagi masyarakat terdampak bencana. Hal ini sejalan dengan Fatwa MUI Jateng Nomor Kep.FW.03/DP-P.XIII/SK/IV/2020 tentang Takjil Zakat Fitrah untuk Mustahik Terdampak Bencana.
Selain itu, umat Islam diajak memperbanyak muhasabah dan istighfar, serta memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari segala musibah.




















