Korban atau Berkurban? Semangat Iduladha dan Kesadaran Keamanan Siber di Indonesia

Pratama
Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Dr. Pratama Persadha. Dok. Pribadi

Sementara itu, berkurban dalam konteks keamanan siber berarti secara sadar mengorbankan sedikit kenyamanan demi keamanan yang lebih besar. Memasang autentikasi dua faktor memang merepotkan. Mengganti password secara berkala memang tidak praktis. Memverifikasi setiap pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank atau lembaga resmi memang memakan waktu. Akan tetapi, kata Pratama, itu merupakan pengorbanan kecil yang justru melindungi aset digital kita.

Pratama menilai bahwa budaya digital Indonesia masih sangat lemah dalam hal kesadaran ini. Banyak anggota masyarakat yang masih tergiur dengan tawaran hadiah palsu, tautan mencurigakan, atau aplikasi yang meminta izin akses berlebihan.

BACA JUGA  Rekam Wajah Registrasi Pelanggan Seluler Hindarkan dari Kejahatan Digital

Pola ini, menurut Pratama, mirip dengan hewan yang digiring ke tempat pemotongan tanpa sadar akan apa yang terjadi. Bedanya, dalam Iduladha hewan kurban dipilih secara sadar oleh yang berkurban. Dalam dunia digital, rakyat sering menjadi pihak yang tidak pernah diajak berunding ketika data mereka diperdagangkan atau identitas mereka dipalsukan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Polisi Bubarkan Pengunjuk Rasa di Pati dengan Gas Air Mata

Kesadaran ini harus dibangun dari hulu. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan BSSN perlu terus menggencarkan literasi keamanan siber yang membumi, bukan sekadar seminar dan buku saku yang tidak pernah dibaca.

Di sinilah masyarakat perlu diedukasi dengan bahasa yang sederhana dan relevan, termasuk melalui momen-momen budaya seperti Iduladha. Analogi kurban bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk menjelaskan bahwa setiap pengorbanan kecil dalam menjaga keamanan digital adalah ibadah dalam konteks melindungi diri dan keluarga dari kejahatan siber.

Pos terkait