Kota Semarang Mantapkan Transformasi Berkelanjutan

Refleksi di Usia 479 Tahun

Sejarawan Universitas Diponegoro Prof. Singgih Tri Sulistiyono, dalam catatan terpisah menilai bahwa usia 479 tahun bukanlah pencapaian biasa bagi sebuah kota di Indonesia. 

“Semarang telah melalui masa kolonial, revolusi, orde lama, orde baru, hingga reformasi. Setiap lapisan sejarah meninggalkan jejak fisik dan sosial. Tantangannya sekarang adalah bagaimana merawat warisan itu sambil melompat ke masa depan,” tuturnya.

Visi bersih, sehat, cerdas, makmur, tangguh yang digaungkan Agustina Wilujeng, menurut Singgih, adalah jawaban atas tuntutan kota abad ke-21. 

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Ramp Check di Mangkang, 50 Sopir Truk Dapat Teguran

“Kota tangguh tidak hanya soal infrastruktur tahan banjir, tetapi juga ketahanan sosial warganya. Itu yang lebih sulit diukur,” terang Singgih.

Agustina mengakui bahwa perjalanan menuju lima pilar itu masih panjang. “Tapi momentum HUT ke-479 ini adalah awal. Kado-kado yang kami berikan adalah bibit. Kami ingin warga tidak hanya menerima, tetapi juga ikut menanam dan merawat,” katanya.

Dengan belasan kado yang menyentuh hampir semua sektor kehidupan, kota Semarang menunjukkan bahwa perayaan usia kota bisa menjadi instrumen kebijakan publik yang cerdas. 

BACA JUGA  Jelang Akhir Tahun, Realisasi Pendapatan Daerah Capai 81 Persen

Bukan sekadar pesta, melainkan penguatan fondasi untuk melangkah menuju kota yang benar-benar hebat dalam makna yang dirasakan langsung oleh warganya.

Pos terkait