“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh panitia dan warga yang telah menguri-uri makam beliau. Renovasi ini sudah kita komunikasikan sejak lama, bahkan sebelum masa pandemi. Komitmen masyarakat menjaga aset sejarah seperti ini patut kita dukung bersama,” tuturnya.
Lebih lanjut, Iswar menilai keberadaan Makam Kiai Jungke tidak hanya memiliki nilai sejarah dan keagamaan, tetapi juga berpotensi menjadi pusat aktivitas ziarah yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Makin banyak peziarah yang datang, makin besar pula peluang tumbuhnya usaha-usaha warga di lingkungan sekitar.
Di sisi lain, Iswar juga mengingatkan bahwa Semarang Tengah sebagai salah satu kawasan tertua di Kota Semarang masih memiliki banyak makam tokoh dan ulama yang perlu mendapat perhatian bersama agar tidak hilang di tengah pesatnya perkembangan kota.
“Semarang Tengah ini menyimpan banyak jejak sejarah para ulama. Saya mendengar masih ada makam-makam tua yang kondisinya belum terawatt dengan baik. Mari kita jaga Bersama agar warisan sejarah Kota Semarang tetap lestari dan dapat dikenalkan kepada generasi mendatang,” terangnya.
Wakil Wali Kota berharap, peringatan haul tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi menjadi titik awal tumbuhnya kegiatan keagamaan yang rutin di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan seperti pengajian, selawatan, maupun majelis taklim akan mempererat ukhuwah warga sekaligus menghidupkan kawasan melalui aktivitas ziarah.
“Kalau rutinan seperti pengajian atau selawatan terus dihidupkan, insyaallah silaturahmi antarwarga makin kuat, keberkahan akan hadir, dan aktivitas ziarah juga akan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar Pandansari,” pungkasnya.


















