Hasil Lab MBG SMKN 6 Semarang Positif Bakteri, Dinkes Minta 180 SPPG Diperiksa

  • Hasil uji mikrobiologi sampel MBG di SMKN 6 Semarang positif terpapar 3 bakteri
  • Dinkes usulan uji mikrobiologi di 180 dapur SPPG di Semarang

MATASEMARANG.COM – Hasil uji laboratorium terkait kasus keracunan pangan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang akhirnya keluar. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M. Abdul Hakam membeberkan bahwa sampel makanan dari sekolah tersebut positif terkontaminasi tiga jenis bakteri sekaligus, yaitu E. coliStaphylococcus, dan Salmonella.

Hakam menyebutkan kontaminasi bakteri tersebut terpusat pada menu lauk pauk berprotein tinggi yang disajikan kepada para siswa.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Bandara Ahmad Yani dan Basarnas Semarang Bersinergi, Siap Siaga Hadapi Situasi Darurat

“Rata-rata titik terpaparnya ada di protein, seperti rendang ayam dan telur puyuh. Hasilnya E. colipositif, Salmonellapositif, dan Staphylococcus juga positif,” kata Hakam, Rabu 12 Agustus 2026.

Ia menegaskan, seluruh hasil uji laboratorium ini telah dikirimkan secara resmi kepada pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tindak lanjut penanganan.

Lebih lanjut, Hakam mengungkapkan fakta bahwa seluruh kasus keracunan pangan yang terjadi di Kota Semarang sejak 2025 hingga kini menunjukkan pola yang sama. 

BACA JUGA  Cuaca Hari Ini, Selasa 24 Februari 2026: Semarang Berawan Pagi, Hujan Siang hingga Malam

Dari uji sampel di tujuh lokasi kejadian, seluruh pemeriksaan kimia sintetis, seperti formalin, boraks, hingga zat pewarna menunjukkan hasil negatif.

Namun, penyebab utama keracunan selalu didominasi oleh cemaran mikrobiologi (bakteri). Menurutnya, hal ini mengindikasikan tingginya kelalaian dalam proses pengolahan dan sanitasi makanan oleh para penjamah makanan (food handler).

“Bakteri Staphylococcus itu kan banyak terdapat di lapisan kulit kita. Kalau penjamah makanannya tidak cuci tangan, atau lauk protein tidak ditutup dan disimpan pada suhu yang tidak sesuai, penumbuhan kuman akan sangat cepat. Jadi masalah utamanya ada di higienitas penjamah makanannya,” jelasnya.

Pos terkait