“Anggota jamiyah itu juga ada dari Mesir dan India yang bermukim di Surabaya. Jadi, NU itu sudah lama bersifat global dari sikap/tujuan dan anggota. NU juga bukan hanya pemikiran, tapi gerakan, karena itu ada Qonun Asasi,” kata Ketua PWNU Jatim tersebut.
Terkait dengan Muktamar NU 2026 yang direncanakan digelar pada awal Agustus, Gus Kikin menegaskan siap untuk menjalankan amanat jika dirinya diberi amanat.
Ia enggan disebut meminta untuk dipilih, sebab memang tidak meminta. Hanya jika diberikan amanat, ia akan menjalankannya.
“Kalau saya didorong ya jalan, kan saya maju itu sebagai kewajiban ya sudah. Kalau tidak ada yang dorong ya nggak apa-apa, karena yang penting itu saya tidak meminta. Yang penting juga, jangan mendorong dengan menghalalkan segala cara, itu nggak mau saya,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Prof Dr KH Masykuri Bakri berharap Muktamar NU 2026 ke depan bisa membawa NU ke arah persatuan.
“NU harus didudukkan kembali sebagaimana yang dirintis oleh KH Hasyim Asy’ari yakni bisa membawa nuansa persatuan. Persatuan dan kesatuan itu kunci utama, kami berdoa agar NU kembali ke khittah, ibarat gerbang yang keluar dari relnya maka harus dikembalikan ke rel nya,” kata Masykuri.
Ia menekankan pentingnya mengembalikan alumni agar kembali ke rel, kembali ke khittah. Hal itu sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan pendiri NU, Hadratussyech K.H. Hasyim Asy’ari.
“Jadi harapannya alumni kembali kepada rel, pada khittah. Ibarat gerbang kereta itu ketika gerbangnya ini kok sampai keluar dari relnya dikembalikan pada relnya, ” kata dia. [Ant]

















