Menurutnya, tantangan pangan saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, distribusi pangan, fluktuasi harga, hingga potensi cemaran pangan.
Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar masyarakat tidak hanya memperoleh pangan yang cukup, tetapi juga aman untuk dikonsumsi.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemkot Semarang terus mengembangkan berbagai program inovatif yang mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Program seperti Pak Rahman, Kempling Semar, hingga layanan pengujian pangan keliling menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan rantai pangan berjalan dengan baik, aman, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Ketahanan pangan harus dibangun dari hulu hingga hilir. Kita menjaga kualitas pangan, memperkuat pengawasan, memastikan distribusi berjalan lancar, sekaligus menjaga harga tetap stabil agar masyarakat tidak terbebani. Inilah bentuk kehadiran pemerintah dalam melindungi kebutuhan dasar warga,” jelasnya.
Berbagai langkah tersebut juga berkontribusi terhadap pengendalian inflasi daerah sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.
Agustina menegaskan bahwa pangan yang aman dan terjangkau merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.
Komitmen Kota Semarang dalam membangun sistem pangan yang tangguh itu pun mendapat pengakuan nasional melalui raihan Juara 1 Nasional Kota Pangan Aman Tahun 2025.
Prestasi tersebut menjadi bukti keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, pasar rakyat, kader keamanan pangan, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pangan yang kuat dan berkelanjutan.
















