“Ini sudah termasuk penentuan tempat yaitu Kabupaten Pekalongan menyatakan kesiapan lahannya. Yang penting semuanya clean and clear agar bisa segera diimplementasikan,” katanya.
Menurut dia, dengan keterbatasan anggaran daerah serta berkurangnya dana transfer ke daerah, kata dia, maka perlu dibutuhkan terobosan besar agar persoalan sampah tidak semakin membebani daerah apalagi di tengah situasi rawan bencana.
“Kalau mengandalkan APBD saja tentu berat. Alhamdulillah ada investor yang siap bekerja sama yang nantinya sampah yang dihasilkan dari empat daerah ini akan diolah menjadi energi listrik,” katanya.
Ia mengatakan proyek Waste to Energy ini dirancang dengan masa kerja sama 20 tahun hingga 30 tahun sehingga komitmen lintas periode kepemimpinan menjadi hal mutlak agar hubungan kerja sama tidak berhenti di tengah jalan.
“Jangan sampai nanti ganti kepala daerah lalu minta adanya MoU baru lagi. Itu tidak fair bagi investor karena mereka sudah berinvestasi besar dan serius,” katanya. [Ant]

















