Pandangan ini menurutnya harus dipatahkan karena meski tidak berganti-ganti pasangan, HPV tetap dapat menular mengingat sifat virusnya yang dapat menempel melalui kontak kulit.
Apabila HPV yang menempel di kulit tersebut terpenetrasi lewat hubungan seksual maka ini yang akhirnya akan menjadi berbahaya.
“Karena semua orang yang berhubungan intim bisa terpapar oleh HPV. Persepsi yang paling berbahaya ketika orang berpikiran ‘saya kayaknya aman’, padahal tidak, makannya kita perlu vaksin,” kata dokter Darrell.
Menurut dokter Darell vaksin HPV selain dapat mencegah kanker serviks juga disebut efektif mencegah penyakit serius lainnya seperti kanker anus, kanker vagina, kanker orofariangeal. Bahkan pada laki-laki, vaksin ini dapat mencegah secara efektif terjadinya kanker penis dan kutil kelamin.
Serupa dengan paparan dokter Darell, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga melalui program-programnya menunjukkan bahwa pemberian vaksin HPV kepada masyarakat sebagai langkah mengeliminasi kanker serviks pada 2030.
Salah satu program Kemenkes yang dimaksud ialah pemberian vaksin HPV gratis bagi anak perempuan kelas 5 dan 6 SD (atau usia 11-12 tahun) melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) secara nasional.
Terbaru, Kemenkes juga berencana memulai pemberian vaksin HPV pada anak laki-laku berusia 11 tahun untuk menekan angka kanker serviks mengingat laki-laki berpotensi menjadi pembawa (carrier) dan menularkan virus HPV kepada pasangan seksualnya. [Ant]


















