MATASEMARANG.COM – Selain menjadi penyebab berbagai penyakit mematikan dan menguras pendapatan keluarga, kecanduan rokok juga menjadi pemicu kemiskinan rumah tangga.
Sekretaris Jenderal Komnas Pengendalian Tembakau Tulus Abadi mengatakan belanja rokok menjadi salah satu pemicu kemiskinan rumah tangga di Indonesia.
“Pengeluaran untuk rokok sering kali lebih tinggi dibanding kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, susu, buah, dan sayur,” kata Tulus Abadi pada Lokakarya “Di Balik Layar Cukai” yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Sabtu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan pengeluaran rumah tangga untuk rokok kretek filter di perkotaan mencapai 11,30 persen dari total pengeluaran per kapita. Kondisi tersebut jauh lebih tinggi dibanding belanja telur ayam ras yang hanya 4,30 persen.
Sementara di pedesaan, pengeluaran untuk rokok mencapai 10,78 persen, sedangkan telur ayam ras hanya 3,69 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut dinilai memperburuk kesejahteraan kelompok rentan dan berkontribusi terhadap turunnya kelas menengah di Indonesia. Tingginya pengeluaran rumah tangga untuk rokok disebut mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan bergizi, pendidikan, dan kesehatan.
“Pengendalian konsumsi rokok harus menjadi prioritas utama, karena dampaknya sangat luas, bukan hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan kualitas sumber daya manusia,” ujar Tulus Abadi dikutip Antara.
Selain itu dia juga menyoroti kebijakan cukai rokok 2026 yang dinilai masih memunculkan pertanyaan apakah benar untuk pengendalian konsumsi atau justru kompromi terhadap kepentingan industri.


















