MATASEMARANG.COM – Penyakit stroke masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Guna meminimalisasi risiko fatalitas dan kecacatan, Rumah Sakit Columbia Asia Semarang menghadirkan teknologi mutakhir bernama Digital Subtraction Angiography (DSA).
Teknologi ini menjadi andalan dalam mendeteksi sekaligus menangani berbagai kelainan pembuluh darah di otak secara minimal invasif.
Data Statistik mencatat lebih dari 500.000 kasus Stroke terjadi setiap tahun di Indonesia. Bahkan menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian.
Di tengah tingginya angka kasus, para ahli menilai kecepatan diagnosis (golden period) menjadi faktor penting untuk penyelamatan dan meningkatkan peluang keberhasilan dan mengurangi risiko kecacatan jangka panjang.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Kondisi ini menjadi perhatian karena stroke kini tidak hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia, tetapi juga semakin banyak terjadi pada usia produktif.
Dokter Subspesialis Neurointerventional dan Neurovascular Columbia Asia Hospital Semarang, dr. Aditya Kurnianto, Sp.N, Subsp.NIOO(K), MARS, AIFO-K, FINA, FISQua, FNR,menjelaskan bahwa alat DSA ini berfungsi untuk melihat secara detail kondisi pembuluh darah di otak pasien.
Melalui alat ini, tim medis dapat mengidentifikasi apakah terdapat penyumbatan, penyempitan, aneurisma (gelembung pembuluh darah yang berpotensi pecah dan menyebabkan stroke perdarahan), hingga malformasi pembuluh darah seperti AVM (Arteriovenous Malformation) yang merupakan kelainan sambungan antara pembuluh darah arteri dan balik.


















