“Dengan adanya alat DSA ini, kita bisa mengetahui kelainan-kelainan pembuluh darah tersebut, sehingga kita bisa memutuskan tindakan lanjutan untuk menangani kelainan di pembuluh darah tersebut,” kata dr. Aditya di RS Colombia Asia Semarang, Senin, 29 Juni 2026.
Berdasarkan hasil diagnosis DSA, dr. Aditya menjelaskan bahwa ia dapat melakukan berbagai tindakan intervensi penyelamatan sesuai dengan kasus yang dihadapi pasien. Pada stroke penyumbatan fase kritis atau kurang dari 24 jam, maka dokter dapat melakukan tindakan intra arterial trombolisis dengan menyemprotkan obat khusus untuk menjebol sumbatan, atau melakukan mechanical trombectomy untuk mengambil langsung sumbatan di pembuluh darah yang mengalami oklusi atau penutupan.
Pada kasus Aneurisma yakni untuk mencegah stroke perdarahan akibat pecahnya gelembung pembuluh darah, dokter dapat melakukan tindakan pemasangan coiling guna menutup gelembung tersebut agar aman.
Kemudian pada kasus AVM yakni sambungan abnormal yang berbahaya antara pembuluh darah arteri dan vena akan ditutup menggunakan zat khusus melalui tindakan embolisasi.
Sedangkan pada penyempitan pembuluh darah kritikal atau kurang dari 70 persen, pada kasus penyempitan yang cukup kritis, tindakan pemasangan ring atau balon dapat dilakukan agar penyempitan tidak berkembang menjadi stroke penyumbatan yang berbahaya bagi pasien.
Masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala awal stroke agar pasien bisa segera mendapatkan pertolongan. Kementerian Kesehatan sendiri telah memberikan patokan singkatan yang mudah diingat, yaitu “SeGeRa Ke RS”:


















