“Jadi mereka tidak hanya tahu tapi punya kemampuan pemahaman sesuai dengan tingkatan, mislanya anak PAUD, SD sampai SMP itu How to Know tentang lingkungannya, kemudian SMA sampai yang berusia 30 tahun ini literasinya lebih pada bagaimana menyelesaikan masalah dan mendapat solusi atau How to Do,” bebernya.
Bambang mengatakan guna mewujudkan hal tersebut, Dinas Arsip telah mengadakan pelatihan menulis cerita pendek yang diikuti sekitar 2.000 peserta. Kemudian dari pelatihan tersebut terkumpulah cerita-cerita pendek dan diambil 30 cerita terbaik dari masing-masing kategori.
“Tingkatannya ada SD, SMP dan SMA-umum hingga 30 tahun. Jadi ada 90 cerpen terbaik kami launching dalam sebuah antologi buku cerpen,” terangnya.
Bahkan, lanjut Bambang, dari hasil cerpen-cerpen tersebut, Wali Kota menginginkan untuk bisa dibuat film pendek. Hal tersebut merupakan mimpi Wali Kota Semarang untuk mewujudkan Semarang sebagai Kota Sinema.
“Jadi harus banyak ide-ide penulisan yang bukan hanya lokal regional bahkan kalau bisa nasional bahkan mau diikutkan kepada lomba-lomba ide cerita internasional. Itu yang diharuskan. Jadi kegiatan yang sustainable ini berkelanjutan kami di tahun depan dari cerpen itu kami pilih untuk pembuatan film,” pungkasnya.

















