- Penguatan rupiah juga disebabkan harga minyak mentah Brent turun lebih dari 8 persen hingga mendekati 95 dolar AS per barel
MATASEMARANG.COM – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis, 5 November 2026, unjuk otot. Meski demikian, indikator keduanya belum menyentuh batas psikologis kurs di bawah Rp18.000/dolar AS dan IHSG belum pula melampaui 5.000.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis melesat sebesar 98 poin menjadi Rp18.070 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.168 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan menguatnya rupiah dipengaruhi hasil pemilihan umum (pemilu) paruh waktu AS yang dimenangkan oleh Partai Demokrat.
“Dengan kemenangan Partai Demokrat, timbul ekspektasi bahwa Partai Demokrat akan membatasi ruang pemerintahan Trump terkait kebijakan tarif, pajak, defisit anggaran pemerintah, penerbitan obligasi pemerintah, sehingga mendorong investor global mengatur ulang portofolio investasinya lebih ke risk on,” katanta di Jakarta, Kamis.
Faktor tersebut turut mempengaruhi yield obligasi pemerintah AS 10 tahun yang menurun 10,1 basis poin (bps) menjadi 4,86 persen, dan pelemahan indeks dolar AS ke 101,3.
Penguatan rupiah juga disebabkan harga minyak mentah Brent turun lebih dari 8 persen hingga mendekati 95 dolar AS per barel, sebagaimana laporan Kantor Berita Anadolu.
Tolok ukur internasional tersebut turun 8,55 dolar AS, atau 8,25 persen, menjadi 95,05 dolar AS pada Rabu (4/11) pukul 18.50 GMT, jatuh ke bawah level 100 dolar AS untuk pertama kalinya dalam sebulan. Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), turun 7,81 dolar AS, atau 8,13 persen, menjadi 88,28 dolar AS.
















