Sucipto, Kang Parkir Naik Haji

“Profesi saya (tukang) parkir, kalau malam bantu jaga keamanan di perumahan. Dari situ saya nabung sedikit-sedikit,” kata Sucipto, saat ditemui di rumah sederhananya di Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara.

Rumah itu tampak ramai beberapa hari terakhir. Tetangga, kerabat, hingga warga dari lingkungan tempatnya bekerja datang silih berganti. Sebagian membawa doa, sebagian lain membawa rasa bangga.

Di sudut ruang tamu, koper berwarna gelap telah tertata rapi. Beberapa perlengkapan ibadah sudah dipersiapkan. Sucipto tinggal menunggu hari keberangkatan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Jejak Harum Aroma Kopi Legendaris dari Wotgandul Semarang

Perjalanan menuju titik itu sama sekali tidak singkat. Ia mengaku mulai menabung secara serius untuk berangkat haji sejak tahun 2012.

Saat itu, ketiga anaknya masih membutuhkan biaya pendidikan. Dalam kondisi ekonomi terbatas, Sucipto harus membagi penghasilannya untuk kebutuhan rumah tangga, sekolah anak, serta tabungan haji.

Setiap kali ada sisa uang, berapa pun nominalnya, ia sisihkan. Kadang hanya puluhan ribu rupiah. Kadang lebih, jika rezeki sedang baik.

“Kalau habis bayar sekolah anak-anak, ada sisa empat puluh ribu, lima puluh ribu, saya tabung. Sedikit-sedikit,” katanya.

BACA JUGA  Politik Trah yang Kian Dianggap Lumrah

Tabungan itu mula-mula ia simpan secara sederhana. Ketika jumlahnya dirasa cukup, ia memindahkannya ke rekening bank. Proses itu berlangsung berulang selama bertahun-tahun.

Namun, menabung saja ternyata belum cukup untuk memenuhi biaya setoran awal pendaftaran haji.

Di tengah perjuangannya, Sucipto mengambil keputusan besar. Ia menjual sebidang tanah miliknya untuk melengkapi biaya setoran awal sebesar Rp25,5 juta.

Pos terkait