Sucipto, Kang Parkir Naik Haji

Keputusan itu bukan hal mudah karena tanah tersebut merupakan salah satu aset keluarga yang nilainya terus meningkat. Namun, bagi Sucipto, panggilan berhaji memiliki tempat istimewa di dalam hidupnya.

“Waktu itu saya punya tanah sedikit, saya jual. Buat nambah setoran awal,” katanya.

Sejak tahun 1999, Sucipto sudah bekerja di Pasar Pon. Lebih dari dua dekade ia mengenal denyut kehidupan pasar tradisional, pedagang yang datang sebelum subuh, pembeli yang berebut kebutuhan pokok, hingga kendaraan yang silih berganti memenuhi area parkir.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Biarkan Rakyat Memilih Langsung Kepala Daerah

Di tempat itulah banyak orang mengenalnya. Sebagian memanggilnya Pak Sipto, sebagian lain sekadar menyapa dengan senyum dan anggukan.

Bagi para pedagang, ia bukan sekadar penjaga parkir, melainkan bagian dari keluarga besar pasar. Oleh karena itu, kabar keberangkatannya ke Tanah Suci cepat menyebar.

Ucapan selamat datang dari berbagai arah. Doa dipanjatkan oleh rekan kerja, pedagang pasar, hingga warga kompleks tempat ia menjaga keamanan pada malam hari.

Saat menceritakan hal itu, mata Sucipto tampak berkaca-kaca. “Kadang nelangsa, kadang senang. Warga perumahan pada bangga, nyelameti (memberikan selamat) saya. Tiga RT di sana ikut senang,” katanya.

BACA JUGA  Mungkinkah Mencipta Karya Bermakna Tanpa Jadi Budak Algoritma?

Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Sebagai kepala keluarga dengan tiga anak, prioritas utamanya selama bertahun-tahun adalah memastikan pendidikan anak-anak tetap berjalan.

Bahkan, ia pernah berutang demi kebutuhan keluarga dan pendidikan. Utang itu satu per satu ia lunasi, sambil tetap menjaga tabungan hajinya agar tidak terpakai.

Pos terkait